Siapa pun Anda, apakah Anda seorang ibu
atau ayah, paman atau bibi, guru atau bahkan hanya tetangga seorang anak, pasti
dalam hidup, Anda akrab dengan perbedaan. Kondisi ini tentunya juga dirasakan
oleh anak-anak baik di lingkungan rumah maupun di sekolah. Untuk itu, menjadi
penting bagi kita untuk turut bertanggungjawab mengajarkan toleransi kepada
anak.
Mengapa anak? Hal ini karena jika kita
ingin membuat dunia menjadi tempat yang lebih saling memahami, kita harus mulai
dengan anak-anak. Mereka adalah orang-orang yang mudah dipengaruhi yang masih
membentuk persepsi mereka tentang dunia, dan sangat penting bagi mereka untuk
memiliki model peran positif dan pengaruh yang baik dalam hidup mereka.
Tidak hanya mengacu pada perbedaan agama dan
ras, tetapi juga toleransi terkait gender, cacat fisik/mental, ukuran, bentuk
tubuh, dan berbagai hal yang terkait dengan perbedaan. Nah, agar kita lebih memahami bagaimana mengajarkan toleransi
kepada anak, berikut tujuh kiat yang telah saya rangkum untuk Anda. Semoga
bermanfaat!
Saat Anda ingin
mengajarkan anak tentang toleransi, setidaknya ada tujuh kiat berikut ini yang
bisa Anda coba terapkan di rumah, yaitu:
1.
Jadilah Role Model yang Baik bagi Anak
Ingatlah cara Anda
memperlakukan dan berbicara dengan orang lain. Apakah sudah mencerminkan
toleransi? Tunjukkan rasa hormat kepada orang lain dan refleksikan sikap Anda
sendiri secara konsisten. Anak-anak mendengarkan dan belajar dari Anda.
Beberapa waktu yang lalu saat di sekolah, saya sering mendengar anak-anak
membuat stereotip dan bercanda tentang nama-nama gaul yang diberikan kepada
anak-anak lain dari kelompok-kelompok yang berbeda (secara suku, ras, maupun
agama). Ketika saya tanya tentang kata-kata itu, kebanyakan dari mereka
mengatakan bahwa itulah yang mereka dengar di rumah.
Saat Anda sedang berbicara dengan suami/istri Anda,
perhatikan bahwa anak-anak Anda mungkin mendengarkan. Pikirkan baik-baik
kata-kata yang Anda gunakan. Dengan segala cara, bicaralah tentang
kelompok-kelompok yang berbeda secara faktual dan informatif, tetapi hindari
bercanda dan panggilan nama yang merendahkan. Hal ini agar anak-anak tidak
mengulangi apa yang telah mereka dengar secara negatif dari Anda di tempat
umum.
2.
Jujurlah saat Menjawab Pertanyaan Anak
Beberapa
dari kita seringkali berbicara tidak jelas ketika anak-anak bertanya tentang keragaman.
Sebagai contoh, misalnya, ada orang tua memberi tahu anak-anak hal-hal seperti
“Kita tidak melihat orang lain dari warna kulitnya” dan “Kita semua sama di
dalam hati kita.” Padahal pernyataan orang tua semacam itu dapat membingungkan
anak.
Pada hakikatnya orang-orang
di sekeliling kita diciptakan Tuhan YME memiliki warna yang berbeda. Ada yang
berkulit putih seperti orang Eropa, berkulit kuning seperti orang Cina atau
Korea, ada yang berkulit sawo matang atau juga hitam, dan sebagainya. Langkah
terbaik yang Anda lakukan adalah memberi pengertian kepada anak bahwa memang
warna kulit seseorang bisa berbeda. Namun, ajak anak untuk juga belajar
menerima dan menghargai orang lain itu, meskipun mereka berbeda.
3. Ajak Anak Berinteraksi dengan Orang-Orang
dari Latar Belakang Ras dan Budaya yang Berbeda
Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, sehingga tidak
masalah jika Anda pun mendiskusikannya dengan anak-anak. Tentunya dengan cara
yang baik dan menghargai perbedaan itu sebagai suatu anugrah Tuhan. Selain mendiskusikannya,
Anda juga dapat meminta anak berpartisipasi dalam kegiatan atau bermain bersama
anak-anak dari beragam latar belakang suku, agama, ras, maupun kemampuan
(disabilitas atau nondisabilitas) jika memungkinkan. Permain ini akan membantu
mereka memahami bahwa meskipun orang berbeda, mereka tetap dapat bekerja dan
bersenang-senang bersama. Mereka juga dapat melihat semua kesamaan yang mereka
miliki dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda itu.
Anda juga dapat mengajak anak untuk berkunjung ke
daerah yang berbeda budaya dengan Anda. Bahkan jika perlu, pertimbangkan untuk
mendaftarkan anak Anda di sekolah atau program pengasuhan anak dengan anak-anak
dari banyak budaya yang berbeda. Kondisi ini akan semakin membuat anak terbiasa
dengan perbedaan di sekitarnya.
4.
Koreksi Anak Ketika Berkomentar yang Buruk
terhadap Ras atau Budaya Lain
Terkadang anak-anak akan mengulangi hal-hal yang
mereka dengar tanpa mengetahui bahwa apa yang mereka katakan adalah negatif. Anda
sebaiknya segera hadir untuk memperbaikinya dan menjelaskan mengapa tidak dapat
dibicarakan secara negatif tentang orang lain hanya karena mereka berbeda. Anda
pun sebaiknya segera menanggapi dan meluruskan jika seorang anggota keluarga
dekat atau tetangga menceritakan lelucon etnis atau membuat cercaan rasial di
depan anak Anda.
Anda bisa mengingatkan orang itu dengan cara:
“Ketika Anda berbicara seperti itu, itu membuat saya tidak nyaman,” atau Anda
dapat katakan: “Tolong jangan gunakan kata itu lagi.” Saat anak Anda mengamati
Anda mengambil sikap, ia akan belajar menggunakan frasa seperti ini dan mulai
ikut mengingatkan anak-anak lain juga jika mereka berkomentar negartif tentang
seseorang yang berbeda. Adapun jika Anda tidak mengatakan apa pun, anak Anda
mungkin berpikir Anda setuju dengan lelucon atau cercaan itu.
Selain itu, ketika
anak Anda membuat pernyataan buruk tentang orang lain yang berbeda, ingatkan
dia bagaimana perasaannya ketika dia tidak diperlakukan dengan baik oleh
teman-temannya dan tanyakan kepadanya “Bagaimana menurutmu perasaan anak itu
ketika tidak ada yang mau bermain dengannya hanya karena dia tidak bisa
berbicara Bahasa Indonesia dengan lancar?” Ketika anak Anda mulai besar, Anda
dapat menjelaskan intoleransi dengan cara ini: “Kadang-kadang orang takut pada
seseorang yang berbeda. Mereka bersikap jahat kepada orang ini karena mereka
merasa tidak nyaman, itu salah. Padahal yang sebaiknya mereka lakukan, adalah
mencoba mengenal orang itu lebih baik.”
5. Bantu Anak Merangkul Budaya Mereka Sendiri
Mengajak anak merangkul atau
menghargai budaya mereka sendiri sangat membantu mereka untuk memahami budaya
orang lain. Hal ini karena anak akan menerima siapa mereka dan memiliki harga
diri yang positif, sehingga mereka akan melihat orang-orang yang berbeda tidak sebagai
ancaman. Mereka akan cenderung menghormati orang lain karena mereka menghargai
diri mereka sendiri. Selain itu, mereka akan dapat mengenalkan budaya mereka
dengan orang lain dan membantu mereka menjadi lebih sadar budaya.
6.
Ajak Anak Membaca Buku atau Menonton Film Bertema Keragaman
Anda dapat
memilihkan buku, film, cerita, dan permainan yang menghargai perbedaan. Media
memiliki kemampuan yang kuat untuk membentuk sikap. Jika Anda menonton atau
melihat sesuatu yang berprasangka buruk, pastikan untuk membicarakannya dengan
anak-anak Anda sehingga mereka dapat belajar menjadi lebih baik.
Film populer seperti Mulan, Brave, Frozen, Wreck it Ralph, Monster’s Inc., dan Shrek adalah beberapa film yang dapat
Anda pilih untuk anak-anak belajar tentang perbedaan. Pastikan Anda
mendiskusikan berbagai elemen keragaman dan toleransi yang muncul saat menonton
film-film ini. Hal ini karena anak-anak yang lebih kecil mungkin tidak memahami
beberapa dari elemen-elemen ini sendiri.
7. Ajak Anak Merasakan Aktivitas Keberagaman
Anak-anak belajar banyak melalui bermain dan menciptakan
sesuatu. Berikut beberapa kegiatan yang dapat Anda manfaatkan untuk mengajari
anak-anak Anda tentang keragaman dan toleransi. Anda dapat mengajak anak untuk
mengikuti atau hadir dalam festival antarnegara. Anda dapat memberikan
anak-anak kesempatan untuk mengenakan pakaian dari budaya yang berbeda, misalnya:
memakai kimono di Festival Jepang, atau baju Sari saat ada Festival India, dll.
Diskusikan dengan anak-anak tentang budaya dari mana pakaian itu berasal dan
mengapa pakaian itu dipakai.
Demikian tujuh kiat mengajarkan toleransi kepada anak.
Peran orang tua atau guru dalam mengajarkan anak untuk bisa toleran penting
sekali dan bukan hanya secara lisan, tetapi juga
praktiknya dalam aktivitas mereka sehari-hari. Hal ini karena mengembangkan kebaikan
dan kasih sayang bagi orang lain adalah bagian penting dari pertumbuhan anak.
Kemampuan untuk menerima orang lain, bahkan jika mereka berbeda karena
kemampuan fisik, dan merasa kasihan kepada mereka, adalah elemen penting dari
kompetensi sosial, yang kita yakini sama pentingnya dengan pelatihan akademis
apa pun. Anak-anak yang kompeten secara sosial lebih sukses dalam hidup.
Kemampuan untuk berhubungan dengan dan menerima orang yang berbeda bukan hanya sifat yang diinginkan, melainkan kebutuhan untuk hidup dalam masyarakat yang beragam. Saat keterampilan sosial anak Anda matang, maka akan membantunya membentuk pertemanan yang positif, mampu bekerja dalam kelompok, dan menginspirasi orang lain serta tentunya dapat mencegah terjadinya perundungan.
*Praktisi Perlindungan Anak dan Literasi Media
* Sumber Ilustrasi: https://id.pinterest.com/pin/625718941997168092/

Komentar
Posting Komentar