Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sketsa

Tempe Orek

  Saat pandemik seperti sekarang ini, seorang ibu harus sabar dan banyak akal. Terutama dalam menunaikan perannya menyiapkan asupan bergizi untuk seluruh anggota keluarga. Kondisi ini terjadi, karena bisa ada banyak versi hanya untuk satu jenis makanan. Sebut saja misalnya tempe orek. Ada lima orang penyuka tempe orek di rumah kami. Namun, dengan jenis perlakuan yang berbeda. Anak bungsu sukanya tempe dipotong kecil-kecil kemudian digoreng, selesai. Anak tengah, suka   tempe oreknya di buat dari tempe yang digoreng kering ditambah kacang goreng dan air gula, garam, asam. Selanjutnya diaduk hingga kering, angkat, selesai. Anak sulung suka   tempe oreknya seperti anak tengah, namun ditambah bawang merah dan putih goreng, selesai. Sementara itu, sang ayah, suka tempe orek seperti anak sulung tapi hanya tempe saja tanpa kacang. Bagaimana dengan ibu? Kalau ibu sukanya tempe orek versi lengkap. Muatannya seperti anak sulung, namun dilengkapi dengan potongan cabai keriting seb...

Menjadi Orang paling Berbahagia

  Salah satu keuntungan yang saya rasakan menjadi anggota komite sekolah adalah selalu mendapat undangan untuk menghadiri kegiatan-kegiatan sekolah. Baik kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh pihak manajemen sekolah, maupun yang diselenggarakan oleh siswa. Seperti yang saya alami pada Jumat lalu, kebetulan ada kegiatan pesantren kilat Ramadhan yang diselenggarakan oleh ekstrakurikuler kerohanian Islam di sekolah anak saya. Kegiatan ini diselenggarakan secara virtual mengantisipasi pandemi dan mengangkat tema tentang berbagi kebahagiaan dan tebarkan kebaikan. Meski kegiatan pesantren kilat ini benar-benar kilat karena hanya diselnggarakan 2 jam saja, para peserta baik kami di komite, guru dan siswa sangat terkesan dengan muatan yang di sampaikan penceramah. Alhamdulillah kali ini penceramah adalah praktisi philantrophy yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia berbagi dan pemberdayaan masyarakat. Dia adalah drg. Imam Rulyawan, seorang dosen dan juga pernah menjabat sebagai dir...

Ayah Memang Beda

  Ketika menyiapkan materi untuk seminar Ramadhan di masjid dekat rumah, saya kembali membaca artikel-artikel tentang parenting berbasis agama. Ternyata pengasuhan ayah punya pengaruh besar pada karakter anak. Berdasarkan artikel yang saya baca, seorang anak yang tumbuh dengan cukup memperoleh kasih sayang dan perhatian dari ayahnya, maka ia biasaya akan   punya keberhasilan secara akademis, kestabilan sosio emosi pada usia sekolah, kemampuan pemecahan problem, kemampuan menghadapi kesulitan dengan tenang, mempunyai banyak ide untuk mengatasi masalah, dapat menangani dengan baik kejadian yang tidak terduga, hingga selalu siap menangani permasalahan. Bahkan ada juga hasil riset S2 Sarah Binti Halil Almuthairi dari Universitas Ummul Qura Mekah, yang mengangkat tentang dialog antara orang tua dengan anak dalam alquran dan aplikasi pendidikannya menyatakan bahwa terdapat 1 7 dialog (berdasarkan tema) antara orang tua dengan anak dalam a lquran yang tersebar di 9 (sembilan) s ...

Batal Pesta Gorengan

  Salah satu menu buka puasa yang paling laris di tengah-tengah masyarakat adalah gorengan. Ada yang manis seperti pisang goring atau ubi goreng. Ada juga yang gurih atau asin seperti tempe goreng, risol, aci goreng, singkong goreng, dan tahu goreng lengkap dengan cabainya. Umumnya masyarakat Indonesia menyukai gorengan ini, tak terkecuali keluarga saya. Bahkan menurut anak nomor dua saya, buka puasa dengan menu pisang goreng diberi susu kental manis sudah nikmat rasanya. Alhamdulillah… Sementara itu, suami saya, sangat suka tahu goreng, risol, dan aci goreng. Saat ini, karena pertimbangan kesehatan dan faktor usia, suami sudah mengurangi makan gorengan ini, begitu juga dengan saya. Namun, jangan ditanya dulu saat muda. Hampir setiap hari kami mengkonsumsi gorengan, bukan hanya bulan puasa. Jika saya kebetulan tidak sempat menggoreng sendiri, maka suami akan membeli gorengan ini di penjual keliling yang biasanya mangkal di sudut jalan perumahan kami, atau kadang juga membelinya d...

Pesan Tuhan

Ramadhan kali ini adalah Ramadhan kedua kita di Indonesia dalam suasana pandemi Covid-19. Meskipun tahun ini sudah tidak semencekam tahun lalu, masyarakat tetap diminta agar tidak membuat kerumunan dan menerapkan protokol kesehatan. Shalat tarawih sudah bisa diselenggarakan di masjid-masjid. Ada yang menyelenggarakannya rutin tiap malam. Namun, ada juga yang menyelenggarakannya tidak tiap malam, tetapi berselang seling. Malam ini menyelenggarakan, besok masjid di-desinfektan, lusa baru digunakan kembali.             Saya dan anak-anak memilih Ramadhan kali ini tetap shalat tarawih di rumah saja. Tujuannya bukan hanya untuk meminimalisir berinteraksi dengan orang banyak, akan tetapi memang kami mengambil keutamaan shalat di rumah bagi perempuan. Ya, anak-anak saya ketiganya perempuan, dan kami biasa shalat tarawih bersama di rumah. Sementara ayahnya anak-anak, menjalankan shalat tarawih di masjid dekat rumah. Protokol kesehatan sel...