Langsung ke konten utama

Postingan

PP TUNAS Sudah Ada, Tapi Anak Tetap Butuh Kita: 7 (Tujuh) Tips Orang Tua di Era Digital

Realitas hari ini, banyak orang tua merasa tenang ketika anak lebih sering di rumah.  “Mainnya cuma HP kok,” begitu sering kita dengar. Tapi justru di situlah tantangannya. Dunia luar hari ini tidak perlu didatangi, tapi ia datang sendiri lewat layar. Anak bisa menonton, bermain, bahkan berinteraksi dengan orang yang tidak kita kenal, tanpa kita sadari. Pemerintah memang sudah menghadirkan PP TUNAS (Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2025  tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak) sebagai upaya melindungi anak di dunia digital. Ada aturan soal penyaringan konten, perlindungan data, hingga fitur kontrol orang tua. Ini tentu langkah baik. Tapi dalam praktiknya, tidak semua bisa diandalkan. Anak bisa saja memasukkan usia yang lebih tua saat membuat akun, konten tidak selalu tersaring sempurna, dan aturan tidak bisa mengajarkan anak bagaimana bersikap. Di sinilah peran orang tua menjadi kunci. Berikut 7 (tujuh) tips dari saya untuk menjadi orang...
Postingan terbaru

Brain Rot Akibat Terlalu Banyak Scroll? Lakukan 5 Langkah Ini

  Pernahkah Anda merasa sulit fokus, mudah lelah secara mental, cepat emosi, atau merasa “penuh tapi kosong” setelah lama scroll media sosial? Bisa jadi itu bukan sekadar capek biasa. Fenomena ini kini dikenal dengan istilah brain rot —kondisi ketika otak terbiasa menerima stimulasi berlebihan, cepat, dangkal, dan tanpa jeda, sehingga kemampuan berpikir jernih, fokus, dan refleksi perlahan menurun.  Brain rot tidak datang tiba-tiba. Ia hadir diam-diam lewat kebiasaan harian: membuka ponsel begitu bangun tidur, berpindah dari satu konten ke konten lain tanpa sadar waktu, sulit lepas dari notifikasi, hingga merasa gelisah saat tidak memegang gawai. Dampaknya sering tidak disadari, tetapi nyata: sulit konsentrasi, menurunnya kualitas interaksi keluarga, mudah cemas, bahkan berkurangnya ketenangan batin.    Menjaga Akal Itu Penting           Dalam nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual lintas agama, akal adalah anugerah utama. Akal yang sehat...

Ketika Rumah Tidak Lagi Aman, Kenali 6 Tanda Femisida sebelum Terlambat!

  Belakangan ini, berita tentang suami yang membunuh istrinya, atau pasangan yang saling melukai hingga tewas, semakin sering muncul. Fenomena ini dikenal dengan istilah femisida , yaitu pembunuhan terhadap perempuan oleh pasangannya atau mantan pasangannya sebagai konsekuensi kekerasan dalam relasi . Femisida sering terjadi setelah bertahun-tahun korban mengalami kekerasan yang terus meningkat. Untuk itu, penting kita mengenali tanda-tandanya! Banyak kasus femisida terjadi karena korban menahan diri untuk tetap bertahan di dalam pernikahan, sering kali akibat tekanan sosial, stigma perceraian, ketergantungan ekonomi, atau keyakinan salah kaprah tentang kesabaran. Padahal pernikahan seharusnya menjadi tempat paling aman. Ketika justru mengancam keselamatan, kita wajib waspada .   Apa itu Femisida? Femisida adalah pembunuhan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan, biasanya pasangannya, dan sering terjadi setelah: Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang beru...

Bijak Bermedia Sosial: Yuk, Lakukan T.H.I.N.K. Sebelum Posting

  Pernahkah Anda merasa kesal hanya karena membaca komentar orang di media sosial? Atau mungkin, tanpa disadari, Anda sendiri pernah menulis komentar yang terlalu tajam? Saat ini di dunia maya yang serba cepat, mampu mendorog siapa pun bisa berbicara tentang apa pun. Sayangnya, tidak semua orang meluangkan waktu untuk berpikir terlebih dahulu. Banyak yang terburu-buru menanggapi, tanpa memeriksa kebenaran, tanpa mempertimbangkan dampak, dan sering kali tanpa rasa tanggung jawab. Belajar dari Kasus Kiki Saputri Salah satu contoh yang menghebohkan baru-baru ini adalah kasus Kiki Saputri, seorang komika sekaligus ibu baru, yang melaporkan seorang warganet ke pihak berwajib. Penyebabnya? Komentar kejam yang ditujukan kepada anak bayinya, hanya karena sang komika tidak membalas komentar   warganet, serta dilatar belakangi pula dengan imbas beda pilihan politik dari pemilu yang baru lalu. Sungguh tragis. Tapi inilah kenyataan di ruang digital kita hari ini. Peristiwa ini menjadi...

11 Upaya Penanganan Kekerasan pada Anak

                   Tidak ada orang tua yang ingin anaknya mengalami kekerasan, meskipun itu hanya di dalam mimpi. Segala daya dan upaya dilakukan orang tua untuk melakukan pencegahan kekerasan pada anak. Namun, saat takdir ternyata menghadirkan anak Anda menjadi korban kekerasan, tentu Anda tidak bisa berdiam diri. Berikut ini 11 upaya penanganan kekeasan anak yang saya tuliskan untuk Anda. Semoga bermanfaat! 1 . Jangan Panik, Tetap Bersikap Tenang . Anda sebaiknya tetap tenang dan hindari panik. Usahakan Anda tidak terbawa emosi dalam menanggapi situasi kekerasan pada anak. Mengingat panik dan emosi cenderung memperkeruh situasi dan tidak menyelesaikan masalah.   2. Pastikan Anak Dipisahkan dari Sumber Ancaman . Pastikan anak telah dipisahkan dari sumber ancaman. Jika perlu, Anda minta bantuan dari orang-orang di sekitar Anda seperti keluarga, tetangga, atau teman. 3. Beri Dukungan dengan Mendengarkan dan Tanpa Menyalahkan ...

11 Upaya Pencegahan Kekerasan pada Anak

  Anak adalah amanah dari Sang Pencipta kepada orang tuanya. Terutama untuk dijaga, dilindungi dan diberi limpahan kasih sayang sehingga ia bisa tumbuh optimal menjadi penerus generasi. Namun, bagaimana jika anak justru mengalami kekerasan di dalam rumah? Pelakunya orang terdekatnya sendiri bahkan orang tuanya? Tentu sangat miris karena pengaruhnya akan berdampak panjang terutama pada mental sang anak. Sayangnya, belakangan ini kita justru kerap menemukan kekerasan pada anak di dalam rumah oleh orang tuanya sendiri. Bahkan ada yang hingga meregang nyawa sebagaimana kasus yang terjadi akhir tahun lalu di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kita tentu tidak berharap kejadian semacam ini berulang. Mari kita menjadi bagian dari solusi untuk mengatasinya. Berikut 11 tips dari saya dalam upaya pencegahan kekerasan pada anak, semoga bermanfaat!   1. Orang Tua sebagai Teladan Berkata-Kata dan Bertindak dengan Kesabaran dan Kasih Sayang. Anak belajar menjadi manusia seutuhnya dari lingku...

11 Upaya Penanganan Kekerasan Seksual

    Tidak ada orang yang mau menjadi korban kekerasan/kejahatan seksual. Untuk itu upaya pencegahan dilakukan seoptimal mungkin, baik pada diri sendiri, orang terdekat Anda, maupun lingkungan tempat Anda biasa berinteraksi. Namun, kadang malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, takdir ilahi menempatkan Anda atau orang terdekat Anda menjadi korban kekerasan seksual. Bila sampai hal itu terjadi, apa yang sebaiknya Anda lakukan? Berikut ini 11 upaya penanganan kekerasan seksual yang saya tulis untuk Anda, semoga bermanfaat! 1. Jangan Panik                 Ketika kekerasan/kejahatan seksual menimpa Anda atau orang terdekat Anda, upayakan diri Anda untuk menghindari panik. Hal ini penting agar Anda jangan sampai mengambil langkah yang salah yang justru memperburuk situasi atau kondisi Anda. 2. Tenangkan Diri Usahakan untuk menenangkan diri agar Anda dapat mengambil tindakan yang tepat. Hal ini ji...