Realitas hari ini, banyak orang tua merasa tenang ketika anak lebih sering di rumah. “Mainnya cuma HP kok,” begitu sering kita dengar. Tapi justru di situlah tantangannya. Dunia luar hari ini tidak perlu didatangi, tapi ia datang sendiri lewat layar. Anak bisa menonton, bermain, bahkan berinteraksi dengan orang yang tidak kita kenal, tanpa kita sadari. Pemerintah memang sudah menghadirkan PP TUNAS (Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak) sebagai upaya melindungi anak di dunia digital. Ada aturan soal penyaringan konten, perlindungan data, hingga fitur kontrol orang tua. Ini tentu langkah baik. Tapi dalam praktiknya, tidak semua bisa diandalkan. Anak bisa saja memasukkan usia yang lebih tua saat membuat akun, konten tidak selalu tersaring sempurna, dan aturan tidak bisa mengajarkan anak bagaimana bersikap. Di sinilah peran orang tua menjadi kunci. Berikut 7 (tujuh) tips dari saya untuk menjadi orang...
Pernahkah Anda merasa sulit fokus, mudah lelah secara mental, cepat emosi, atau merasa “penuh tapi kosong” setelah lama scroll media sosial? Bisa jadi itu bukan sekadar capek biasa. Fenomena ini kini dikenal dengan istilah brain rot —kondisi ketika otak terbiasa menerima stimulasi berlebihan, cepat, dangkal, dan tanpa jeda, sehingga kemampuan berpikir jernih, fokus, dan refleksi perlahan menurun. Brain rot tidak datang tiba-tiba. Ia hadir diam-diam lewat kebiasaan harian: membuka ponsel begitu bangun tidur, berpindah dari satu konten ke konten lain tanpa sadar waktu, sulit lepas dari notifikasi, hingga merasa gelisah saat tidak memegang gawai. Dampaknya sering tidak disadari, tetapi nyata: sulit konsentrasi, menurunnya kualitas interaksi keluarga, mudah cemas, bahkan berkurangnya ketenangan batin. Menjaga Akal Itu Penting Dalam nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual lintas agama, akal adalah anugerah utama. Akal yang sehat...