Belakangan ini, berita tentang suami yang membunuh istrinya, atau pasangan yang saling melukai hingga tewas, semakin sering muncul. Fenomena ini dikenal dengan istilah femisida, yaitu pembunuhan terhadap perempuan oleh pasangannya atau mantan pasangannya sebagai konsekuensi kekerasan dalam relasi. Femisida sering terjadi setelah bertahun-tahun korban mengalami kekerasan yang terus meningkat. Untuk itu, penting kita mengenali tanda-tandanya!
Banyak
kasus femisida terjadi karena korban menahan diri untuk tetap bertahan di dalam
pernikahan, sering kali akibat tekanan sosial, stigma perceraian,
ketergantungan ekonomi, atau keyakinan salah kaprah tentang kesabaran. Padahal
pernikahan seharusnya menjadi tempat paling aman. Ketika justru mengancam
keselamatan, kita wajib waspada.
Apa itu Femisida?
Femisida
adalah pembunuhan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan, biasanya
pasangannya, dan sering terjadi setelah:
- Kekerasan dalam rumah tangga
(KDRT) yang berulang
- Kontrol ekstrem terhadap
pasangan
- Cemburu berlebihan dan posesif
- Ancaman pembunuhan sebelumnya
- Tekanan mental dalam hubungan
yang toxic
Namun,
perempuan juga bisa menjadi pelaku pembunuhan dalam keluarga secara reaktif
akibat kekerasan berkepanjangan. Intinya, relasi kekerasan membuka peluang
kejahatan fatal.
Tanda-Tanda Dini
Femisida
Berikut
beberapa tanda bahwa hubungan dapat berpotensi menuju femisida:
1. Kekerasan Fisik yang Terus Meningkat
Mulai dari
memukul, menendang, mencekik, hingga penggunaan benda tajam atau zat berbahaya
(misalnya air keras). Kekerasan biasanya meningkat dari waktu ke waktu, bukan
berhenti.
2. Ancaman Membunuh atau Melukai
Ancaman
seperti:
- “Kalau kamu ceraikan aku,
kubunuh kamu.”
- “Kalau kamu pergi, kamu dan
anak-anak tidak selamat.”
Ancaman seperti ini harus dianggap serius, bukan sekadar emosi sesaat.
3. Kontrol yang Ekstrem
Pelaku
mengatur:
- Ponsel dan komunikasi korban
- Kemana korban boleh pergi
- Uang dan akses finansial
- Pakaian, ibadah, pergaulan,
pekerjaan
Kontrol
adalah langkah awal sebelum kekerasan ekstrem.
4. Cemburu Sakit & Obsesi Memiliki
Femisida
sering dipicu rasa “memiliki” pasangan. Kalimat seperti:
- “Kamu milikku.”
- “Kalau aku tidak bisa
memilikinya, tidak ada yang boleh.”
Ini bukan
romantis. Ini tanda bahaya.
5. Korban Dipaksa Bertahan
Lingkungan
menyuruh korban bertahan:
- “Sabar ya, demi anak.”
- “Jangan janda.”
- “Lelaki memang begitu.”
Tekanan ini bisa membuat korban kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan diri.
6. Percobaan Bunuh Diri pada Korban
Korban
sering merasa tidak punya jalan keluar, hingga mencoba melukai diri sendiri.
Ini tanda mental korban sudah terperangkap dalam kekerasan.
Apa yang Harus Dilakukan?
Nah, jika Anda menemukan 2-3 dari 6 tanda-tanda dini
femisida, Anda harus waspada. Jangan berdiam diri, segera bertindak dan lakukan
sesuatu. Apa yang Harus Dilakukan?
- Cari bantuan profesional: psikolog, pendamping hukum,
lembaga perlindungan perempuan dan anak.
- Simpan bukti kekerasan: foto luka, rekaman, chat
ancaman.
- Pertimbangkan pisah rumah
sementara. Sebaiknya, Anda mempertimbangkan untuk pisah rumah sementara
untuk keselamatan diri Anda dan anak-anak.
- Jangan hanya konsultasi ke
tetangga atau teman.
Butuh ahli. Segera cari psikolog yang Anda percayai untuk memberi saran
dan pertimbangan yang menyeluruh.
- Laporkan ke pihak berwenang jika ada ancaman serius. Anda
juga perlu segera melaporkan tindakan kekerasan serius ke polisi sebelum
terlambat.
Lindungi Anak dari Trauma Femisida
Femisida
sangat potensial menyebabkan anak mengalami trauma. Hal ini karena orang-orang
terekat mereka yang seharusnya saling melindungi, justru menjadi penyebab
terjadinya kekerasan hingga penghilangan nyawa. Akibatnya , anak yang tumbuh
dalam rumah penuh kekerasan sangat berisiko:
- Meniru perilaku abusif
- Mengalami depresi
- Sulit membangun hubungan sehat
di masa depan
Oleh karena itu, Anda penting untuk mempertimbangkan
tumbuh kembang anak lebih lanjut. Lebih baik anak hidup dengan orang tua yang
sehat walau terpisah, daripada hidup dalam ketakutan dalam keluarga utuh.
Penutup
Femisida
tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan dari rasa takut, kontrol,
ancaman, dan kekerasan yang dibiarkan. Jangan biarkan tekanan sosial menahan
seseorang dalam hubungan berbahaya. Hal ini karena cinta tidak boleh menghilangkan nyawa. Pernikahan tidak boleh
menghilangkan martabat. Dan bertahan tidak selalu berarti baik.
*Praktisi Perlindungan Anak dan Perempuan
** Pinterest: https://id.pinterest.com/pin/374221050310566977
.jpg)
Trimakasih bu azimah🙏
BalasHapus