Langsung ke konten utama

Ketika Rumah Tidak Lagi Aman, Kenali 6 Tanda Femisida sebelum Terlambat!

 Belakangan ini, berita tentang suami yang membunuh istrinya, atau pasangan yang saling melukai hingga tewas, semakin sering muncul. Fenomena ini dikenal dengan istilah femisida, yaitu pembunuhan terhadap perempuan oleh pasangannya atau mantan pasangannya sebagai konsekuensi kekerasan dalam relasi. Femisida sering terjadi setelah bertahun-tahun korban mengalami kekerasan yang terus meningkat. Untuk itu, penting kita mengenali tanda-tandanya!



Banyak kasus femisida terjadi karena korban menahan diri untuk tetap bertahan di dalam pernikahan, sering kali akibat tekanan sosial, stigma perceraian, ketergantungan ekonomi, atau keyakinan salah kaprah tentang kesabaran. Padahal pernikahan seharusnya menjadi tempat paling aman. Ketika justru mengancam keselamatan, kita wajib waspada.

 Apa itu Femisida?

Femisida adalah pembunuhan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan, biasanya pasangannya, dan sering terjadi setelah:

  • Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berulang
  • Kontrol ekstrem terhadap pasangan
  • Cemburu berlebihan dan posesif
  • Ancaman pembunuhan sebelumnya
  • Tekanan mental dalam hubungan yang toxic

Namun, perempuan juga bisa menjadi pelaku pembunuhan dalam keluarga secara reaktif akibat kekerasan berkepanjangan. Intinya, relasi kekerasan membuka peluang kejahatan fatal.

 Tanda-Tanda Dini Femisida

Berikut beberapa tanda bahwa hubungan dapat berpotensi menuju femisida:

1. Kekerasan Fisik yang Terus Meningkat

Mulai dari memukul, menendang, mencekik, hingga penggunaan benda tajam atau zat berbahaya (misalnya air keras). Kekerasan biasanya meningkat dari waktu ke waktu, bukan berhenti.

2. Ancaman Membunuh atau Melukai

Ancaman seperti:

  • “Kalau kamu ceraikan aku, kubunuh kamu.”
  • “Kalau kamu pergi, kamu dan anak-anak tidak selamat.”
    Ancaman seperti ini harus dianggap serius, bukan sekadar emosi sesaat.

3. Kontrol yang Ekstrem

Pelaku mengatur:

  • Ponsel dan komunikasi korban
  • Kemana korban boleh pergi
  • Uang dan akses finansial
  • Pakaian, ibadah, pergaulan, pekerjaan

Kontrol adalah langkah awal sebelum kekerasan ekstrem.

4. Cemburu Sakit & Obsesi Memiliki

Femisida sering dipicu rasa “memiliki” pasangan. Kalimat seperti:

  • “Kamu milikku.”
  • “Kalau aku tidak bisa memilikinya, tidak ada yang boleh.”

Ini bukan romantis. Ini tanda bahaya.

5. Korban Dipaksa Bertahan

Lingkungan menyuruh korban bertahan:

  • “Sabar ya, demi anak.”
  • “Jangan janda.”
  • “Lelaki memang begitu.”
    Tekanan ini bisa membuat korban kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan diri.

6. Percobaan Bunuh Diri pada Korban

Korban sering merasa tidak punya jalan keluar, hingga mencoba melukai diri sendiri. Ini tanda mental korban sudah terperangkap dalam kekerasan.

Apa yang Harus Dilakukan?

Nah, jika Anda menemukan 2-3 dari 6 tanda-tanda dini femisida, Anda harus waspada. Jangan berdiam diri, segera bertindak dan lakukan sesuatu.  Apa yang Harus Dilakukan?

  • Cari bantuan profesional: psikolog, pendamping hukum, lembaga perlindungan perempuan dan anak.
  • Simpan bukti kekerasan: foto luka, rekaman, chat ancaman.
  • Pertimbangkan pisah rumah sementara. Sebaiknya, Anda mempertimbangkan untuk pisah rumah sementara untuk keselamatan diri Anda dan anak-anak.
  • Jangan hanya konsultasi ke tetangga atau teman. Butuh ahli. Segera cari psikolog yang Anda percayai untuk memberi saran dan pertimbangan yang menyeluruh.
  • Laporkan ke pihak berwenang jika ada ancaman serius. Anda juga perlu segera melaporkan tindakan kekerasan serius ke polisi sebelum terlambat.

Lindungi Anak dari Trauma Femisida

Femisida sangat potensial menyebabkan anak mengalami trauma. Hal ini karena orang-orang terekat mereka yang seharusnya saling melindungi, justru menjadi penyebab terjadinya kekerasan hingga penghilangan nyawa. Akibatnya , anak yang tumbuh dalam rumah penuh kekerasan sangat berisiko:

  • Meniru perilaku abusif
  • Mengalami depresi
  • Sulit membangun hubungan sehat di masa depan

Oleh karena itu, Anda penting untuk mempertimbangkan tumbuh kembang anak lebih lanjut. Lebih baik anak hidup dengan orang tua yang sehat walau terpisah, daripada hidup dalam ketakutan dalam keluarga utuh.

 Penutup

Femisida tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan dari rasa takut, kontrol, ancaman, dan kekerasan yang dibiarkan. Jangan biarkan tekanan sosial menahan seseorang dalam hubungan berbahaya. Hal ini karena cinta tidak boleh menghilangkan nyawa. Pernikahan tidak boleh menghilangkan martabat. Dan bertahan tidak selalu berarti baik.

*Praktisi Perlindungan Anak dan Perempuan

** Pinterest: https://id.pinterest.com/pin/374221050310566977


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waspada Gim daring: Kenali Modus dan Ketahui Pencegahannya

 Dunia maya memang memiliki daya tarik yang kuat pada siapa pun, tak terkecuali anak-anak. Salah satu yang membuat anak-anak asik berlama-lama di dunia maya, adalah mereka mengakses gim daring ( game online) . Anda perlu waspadai fenomena ini. Mengingat, selain gim daring ini dapat memicu anak menjadi kecanduan internet/ gawai , sehingga membuat aktivitas di dunia nyatanya menjadi terbengkalai, kontennya yang bisa jadi sarat akan kekerasan, juga karena gim daring kini  sudah menjadi modus para predator anak menyasar korbannya. Salah satu contoh kasus kejahatan pemangsa anak melalui gim ini terjadi pada tahun 2021 melalui aplikasi Free Fire . Hasil penyidikan polisi terungkap, bahwa pelaku memang menyasar anak perempuan sebagai pengguna gim. Saat bermain bersama dengan sang anak itulah, pelaku meminta nomor WA dan mulai membujuk korbannya untuk membuat video tanpa busana dengan menawari korban uang gim daring Free Fire sebanyak 500-600 diamond yang akan dikirim ke akun korban...

Budaya Valentine Day di Kalangan Remaja yang Perlu Orang Tua Waspadai

  Setiap pertengahan bulan Februari, tepatnya tanggal 14 masyarakat manca negara banyak yang merayakannya sebagai hari Valentine ( Valentine’s Day ), termasuk di negara kita. Hari Valentine dimaknai oleh banyak orang sebagai hari kasih sayang. Namun, muda-mudi mengekspresikannya secara beragam. Mulai dari saling berkirim kartu ucapan hari Valentine, memberikan atau bertukar hadiah, memberi bunga atau cokelat, hiasan berwarna merah muda ( pink) dan berbentuk hati, makan malam bersama dengan pacar, pesta dansa, hingga hubungan intim.   Sungguh hal ini yang perlu menjadi perhatian para orang tua.                                    Yang tambah membuat miris, ternyata ditemukan fakta di lapangan bahwa setiap perayaan hari Valentine bukan hanya penjualan cokelat meningkat tetapi juga penjualan kondom! Kondisi ini membuat salah satu pemeritah kota bahkan sampai membuat imbauan agar...

Anak Anda tidak Kunjung Mandiri? Berikut 5 (Lima) Perlakuan Salah Orang Tua yang Perlu Jadi Perhatian Anda!

                “Usia anak lelaki saya sudah 30 tahun, tapi ia bukan anak mandiri karena masih selalu mengandalkan saya. Setiap hari, kerjanya hanya menonton  televisi dan bermain gadget. Tak pernah membantu menyelesaikan pekerjaan di rumah, bankan sekadar mengganti bohlam lampu,” keluh seorang ibu.   Ketika keluhan seperti terjadi, siapakah pihak yang bertanggungjawab? Jawabannya adalah orang tua itu sendiri. Mengapa? Karena mereka yang pertama kali menanamkan tentang sikap, nilai, dan juga bertanggung jawab atas pola asuh anaknya. Berikut ini lima hal yang sering dilakukan orang tua sehari-hari yang justru mendorong anak menjadi tidak mandiri yang perlu jadi perhatian Anda!                            1. Memaksa anak menghentikan aktivitasnya Saat usia prasekolah, anak mulai menggemari kegiatan mengasyikkan yang terfokus pada dirinya. Contoh, ia...