Langsung ke konten utama

Brain Rot Akibat Terlalu Banyak Scroll? Lakukan 5 Langkah Ini

 Pernahkah Anda merasa sulit fokus, mudah lelah secara mental, cepat emosi, atau merasa “penuh tapi kosong” setelah lama scroll media sosial? Bisa jadi itu bukan sekadar capek biasa. Fenomena ini kini dikenal dengan istilah brain rot—kondisi ketika otak terbiasa menerima stimulasi berlebihan, cepat, dangkal, dan tanpa jeda, sehingga kemampuan berpikir jernih, fokus, dan refleksi perlahan menurun. Brain rot tidak datang tiba-tiba. Ia hadir diam-diam lewat kebiasaan harian: membuka ponsel begitu bangun tidur, berpindah dari satu konten ke konten lain tanpa sadar waktu, sulit lepas dari notifikasi, hingga merasa gelisah saat tidak memegang gawai. Dampaknya sering tidak disadari, tetapi nyata: sulit konsentrasi, menurunnya kualitas interaksi keluarga, mudah cemas, bahkan berkurangnya ketenangan batin.  


Menjaga Akal Itu Penting

        Dalam nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual lintas agama, akal adalah anugerah utama. Akal yang sehat membuat manusia mampu membedakan yang baik dan buruk, hadir penuh dalam relasi, serta menjalani hidup dengan makna. Oleh karena itulah berbagai ajaran menekankan larangan terhadap hal-hal yang merusak akal—seperti zat adiktif, kekerasan, dan konten yang mengeksploitasi manusia. Di era digital, bentuk baru perusakan akal sering kali hadir lewat banjir distraksi (baca: brain rot) yang banyak dari kita yang menganggapnya sepele.

        Padahal konteks kehidupan modern, tantangan brain rot ini bisa dialami siapa saja, baik orang tua, remaja, bahkan anak-anak. Oleh karena itu, menjaga akal dan kesehatan mental bukan lagi isu pribadi, melainkan ikhtiar bersama. Kabar baiknya, brain rot bisa diatasi, bukan dengan teknologi baru, tetapi dengan mengembalikan jeda, kesadaran, dan kehadiran utuh dalam hidup. Apa sajakah bentuk upayanya? Berikut ini 5 (lima) langkah yang bisa kita lakukan untuk mengatasi brain rot.

5 (Lima) Upaya Sederhana Mengatasi Brain Rot

Melihat demikian meruginya dampak dari Brain Rot, maka pencegahan tentu lebih baik daripada mengatasinya. Berikut lima langkah praktis yang bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja untuk atasi Brain Rot:

1. Puasa Scroll Harian

Tentukan waktu bebas gawai setiap hari, meski hanya 30–60 menit. Gunakan waktu itu untuk aktivitas yang memberi ruang pada otak: membaca, berjalan kaki, atau berbincang tanpa distraksi.

2. Latihan Fokus Tunggal (Single-Tasking)
Biasakan mengerjakan satu hal dalam satu waktu. Saat makan, fokus makan. Saat bersama keluarga, hadir sepenuhnya. Otak perlu dilatih kembali untuk tidak selalu “loncat-loncat”.

3. Ritual Jeda dan Kesadaran
Bagi Muslim, shalat dengan khusyuk adalah latihan fokus terbaik. Bagi non-Muslim, bisa berupa meditasi, doa, pernapasan sadar, atau refleksi hening. Intinya sama: berhenti, sadar, dan hadir.

4. Bersihkan Asupan Mental
Selektiflah terhadap konten. Kurangi paparan yang memicu emosi negatif, perbandingan sosial, atau rangsangan berlebihan. Ganti dengan konten yang mendidik, menenangkan, dan membangun.

5. Kembali ke Relasi Nyata
Interaksi langsung dengan manusia—keluarga, sahabat, komunitas—adalah “vitamin” bagi akal dan jiwa. Tatap mata, dengarkan, dan hadir tanpa layar di antara kita.

Brain Rot Bukan Takdir, Tapi Peringatan

        Brain rot bukan tanda kita lemah, melainkan sinyal bahwa otak dan jiwa kita butuh jeda. Di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk cepat, sibuk, dan selalu terhubung, justru kemampuan untuk berhenti, fokus, dan tenang menjadi bentuk kekuatan baru.

    Mengembalikan ketenangan batin tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Ia dimulai dari keputusan kecil yang konsisten: meletakkan ponsel, mengatur napas, berdoa, bermeditasi, atau shalat dengan lebih sadar. Dari situlah akal kembali jernih, hati lebih lapang, dan keluarga pun merasakan dampaknya.

        Yuk, mari mulai hari ini kita pilih satu langkah kecil yang paling mungkin kita lakukan, apakah puasa scroll, fokus satu tugas, atau menyediakan waktu jeda harian. Jaga akal kita, karena dari akal yang sehat lahir keluarga yang kuat, relasi yang hangat, dan hidup yang lebih bermakna.000

*Praktisi Literasi Media & Perlindungan Anak

**Ilustrasi: Pin on Art

Komentar

  1. Ma syaa Allah.. kerennn buk Azimah...👍❤️ilmu yg sangat bermanfa'att..🙏🌺💐

    BalasHapus
  2. Mulai di coba hal hal yg kelihatannya ringan tp berat.krn effeck hp.insyallh terbaik bwt otak kita.thanks ibu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waspada Gim daring: Kenali Modus dan Ketahui Pencegahannya

 Dunia maya memang memiliki daya tarik yang kuat pada siapa pun, tak terkecuali anak-anak. Salah satu yang membuat anak-anak asik berlama-lama di dunia maya, adalah mereka mengakses gim daring ( game online) . Anda perlu waspadai fenomena ini. Mengingat, selain gim daring ini dapat memicu anak menjadi kecanduan internet/ gawai , sehingga membuat aktivitas di dunia nyatanya menjadi terbengkalai, kontennya yang bisa jadi sarat akan kekerasan, juga karena gim daring kini  sudah menjadi modus para predator anak menyasar korbannya. Salah satu contoh kasus kejahatan pemangsa anak melalui gim ini terjadi pada tahun 2021 melalui aplikasi Free Fire . Hasil penyidikan polisi terungkap, bahwa pelaku memang menyasar anak perempuan sebagai pengguna gim. Saat bermain bersama dengan sang anak itulah, pelaku meminta nomor WA dan mulai membujuk korbannya untuk membuat video tanpa busana dengan menawari korban uang gim daring Free Fire sebanyak 500-600 diamond yang akan dikirim ke akun korban...

Anak Anda tidak Kunjung Mandiri? Berikut 5 (Lima) Perlakuan Salah Orang Tua yang Perlu Jadi Perhatian Anda!

                “Usia anak lelaki saya sudah 30 tahun, tapi ia bukan anak mandiri karena masih selalu mengandalkan saya. Setiap hari, kerjanya hanya menonton  televisi dan bermain gadget. Tak pernah membantu menyelesaikan pekerjaan di rumah, bankan sekadar mengganti bohlam lampu,” keluh seorang ibu.   Ketika keluhan seperti terjadi, siapakah pihak yang bertanggungjawab? Jawabannya adalah orang tua itu sendiri. Mengapa? Karena mereka yang pertama kali menanamkan tentang sikap, nilai, dan juga bertanggung jawab atas pola asuh anaknya. Berikut ini lima hal yang sering dilakukan orang tua sehari-hari yang justru mendorong anak menjadi tidak mandiri yang perlu jadi perhatian Anda!                            1. Memaksa anak menghentikan aktivitasnya Saat usia prasekolah, anak mulai menggemari kegiatan mengasyikkan yang terfokus pada dirinya. Contoh, ia...

Budaya Valentine Day di Kalangan Remaja yang Perlu Orang Tua Waspadai

  Setiap pertengahan bulan Februari, tepatnya tanggal 14 masyarakat manca negara banyak yang merayakannya sebagai hari Valentine ( Valentine’s Day ), termasuk di negara kita. Hari Valentine dimaknai oleh banyak orang sebagai hari kasih sayang. Namun, muda-mudi mengekspresikannya secara beragam. Mulai dari saling berkirim kartu ucapan hari Valentine, memberikan atau bertukar hadiah, memberi bunga atau cokelat, hiasan berwarna merah muda ( pink) dan berbentuk hati, makan malam bersama dengan pacar, pesta dansa, hingga hubungan intim.   Sungguh hal ini yang perlu menjadi perhatian para orang tua.                                    Yang tambah membuat miris, ternyata ditemukan fakta di lapangan bahwa setiap perayaan hari Valentine bukan hanya penjualan cokelat meningkat tetapi juga penjualan kondom! Kondisi ini membuat salah satu pemeritah kota bahkan sampai membuat imbauan agar...