Realitas hari ini, banyak orang tua merasa tenang ketika anak lebih sering di rumah. “Mainnya cuma HP kok,” begitu sering kita dengar. Tapi justru di situlah tantangannya. Dunia luar hari ini tidak perlu didatangi, tapi ia datang sendiri lewat layar. Anak bisa menonton, bermain, bahkan berinteraksi dengan orang yang tidak kita kenal, tanpa kita sadari.
Pemerintah memang sudah menghadirkan PP TUNAS (Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak) sebagai upaya melindungi anak di dunia digital. Ada aturan soal penyaringan konten, perlindungan data, hingga fitur kontrol orang tua. Ini tentu langkah baik. Tapi dalam praktiknya, tidak semua bisa diandalkan. Anak bisa saja memasukkan usia yang lebih tua saat membuat akun, konten tidak selalu tersaring sempurna, dan aturan tidak bisa mengajarkan anak bagaimana bersikap. Di sinilah peran orang tua menjadi kunci.
Berikut 7 (tujuh) tips dari saya untuk menjadi orang tua berdaya di era digital:
1. Hadir, bukan sekadar mengawasi
Mari kita sesekali duduk di samping anak saat mereka bermain gadget. Misalnya, saat anak menonton video, coba tanya santai, “Lagi nonton apa?” Dari situ, orang tua bisa masuk tanpa membuat anak merasa diawasi.
2. Bangun Kebiasaan Ngobrol (Komunikasi)
Gunakan momen sehari-hari, seperti saat makan malam, untuk bertanya, “Hari ini lihat apa yang seru di HP?” Obrolan ringan seperti ini membuat anak terbiasa terbuka. Orang tua juga menjadi lebih antisipatif jika ada sesuatu yang “tidak beres” terjadi pada anak di ruang digital.
3. Ajarkan cara berpikir, bukan hanya melarang
Saat anak melihat sesuatu yang viral, ajak diskusi: “Menurut kamu ini bener nggak?” atau “Kalau ada orang asing chat, aman nggak ya?” Anak belajar memilah, bukan sekadar patuh. Orang tua membiasakan anak mengantisipasi situasi dengan skenario terburuk.
4. Buat Aturan Keluarga yang realistis
Contohnya, tidak pegang HP saat makan, tidak bawa gadget ke kamar tidur, kamar mandi, atau ada jam berhenti main. Buat sebagai kesepakatan bersama agar lebih mudah dijalankan.
5. Kenali Dunia Digital Anak
Tahu aplikasi yang mereka pakai, game yang mereka mainkan, dan siapa teman onlinenya. Tidak perlu detail, tapi cukup untuk memahami keseharian mereka. Sambil orang tua juga mencoba aplikasi tersebut untuk ketahui manfaat dan kemungkinan masalah di dalamnya.
6. Jaga Data Pribadi Anak (dan orang tua)
Ajarkan anak untuk tidak membagikan informasi pribadi. Orang tua juga perlu hati-hati, misalnya tidak sembarangan posting foto anak lengkap dengan lokasi atau identitas sekolah.
7. Beri Contoh Nyata
Kalau orang tua terus pegang HP, anak akan meniru. Tapi kalau orang tua bisa membatasi dan benar-benar hadir, anak pun akan belajar hal yang sama.
Penutup
Pada akhirnya, regulasi seperti PP TUNAS memang penting, tapi tidak cukup. Dunia digital terus berubah, sementara anak-anak kita hidup di dalamnya setiap hari. Oleh karena itu, mereka tidak hanya butuh perlindungan, tapi juga pendampingan. Kita harus ingat: di balik semua teknologi, satu hal yang tetap tidak berubah: anak butuh orang tua yang hadir.
* Praktisi Perlindungan Anak & Literasi Media
** ilustrasi: Pinterest.com 24488391720690890
.jpg)
Komentar
Posting Komentar